Wednesday, 2 January 2013

LANDASAN TEORI

BAB II
TUNJANGAN FUNGSIONAL DAN MOTIVASI MENGAJAR

A.    TUNJANGAN FUNGSIONAL
1.      Pengertian Tunjangan Fungsional
Tunjangan Fungsional Guru adalah pemberian tunjangan kepada pendidik dalam hal ini guru karena jabatan fungsionalnya sebagai guru. Program ini mencakup guru di sekolah negeri dan swasta. Untuk guru di sekolah negeri, dikelola langsung oleh Pemerintah Daerah sedangkan untuk guru di sekolah swasta Non-PNS dikelola oleh Pusat melalui Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas.[1]
2.      Tujuan Pemberian Tunjangan Fungsional
a.       Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kesejahteraan guru sehingga penghasilan yang diterima sebagai guru dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta untuk memberikan penghargaan kepada guru yang telah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
b.      Tujuan Khusus
-      Sebagai penghargaan kepada profesi guru
-      Mendorong dan memotivasi guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan kinerja profesionalnya dalam melaksanakan tugas di sekolah
-      Mendorong guru untuk fokus melaksanakan tugas sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didiknya dengan sebaik-baiknya.
3.      Jenis-Jenis Tunjangan Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Berdasarkan Surat Direktur Perbendaharaan Nomor S-6053/PB/2006 tanggal 16 Agustus 2006 jenis-jenis tunjangan yang diterima bagi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) antara lain : [2]
a.       Tunjangan Jabatan Fungsional
1.    Tunjangan Jabatan Fungsional Pranata Komputer
2.    Tunjangan Jabatan Fungsional Auditor
3.    Tunjangan Jabatan Fungsional Pranata Humas
4.    Tunjangan Jabatan Fungsional Perancang Perundang-undangan
5.    Tunjangan Jabatan Fungsional Agen
6.    Tunjangan Jabatan Fungsional Peneliti
7.    Tunjangan Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan
8.    Tunjangan Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan, Pengawas Benih Tanaman, Pengawasa Bibit Ternak, Medik Veteriner, Paramedik Veteriner, Pengawas Perikanan, Pengendali Hama Dan Penyakit Ikan, dan Pengawas Benih Ikan
9.    Tunjangan Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan
10. Tunjangan Jabatan Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan
11. Tunjangan Jabatan Fungsional Pengendali Dalmpak Lingkungan
12. Tunjangan Jabatan Fungsional Teknik Penggalian, Teknik Jalan dan hambatan, Teknik Tata Bangunan dan Perumahan, dan Teknik Penyehatan Lingkungan
13. Tunjangan Jabatan Fungsional Surveyor Pemetaan
14. Tunjangan Jabatan Fungsional Penyelidik Bumi
15. Tunjangan Jabatan Fungsional Pemeriksa Paten dan Pemeriksa Merek
16. Tunjangan Jabatan Fungsional Perencana
17. Tunjangan Jabatan Fungsional Analisis Kepegawaian
18. Tunjangan Jabatan Fungsional Aspirasi dan Kepustakawan
19. Tunjangan Jabatan Fungsional Polisi Kehutanan
20. Tunjangan Jabatan Fungsional Pemeriksa Pajak, Pemeriksa Bea dan Cukai dan Penilai Pajak Bumi dan Bangunan
21. Tunjangan Jabatan Fungsional Pranata Nuklir
22. Tunjangan Jabatan Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika
23. Tunjangan Jabatan Fungsional Pengawas Radiasi
24.  Tunjangan Jabatan Fungsional Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan
25. Tunjangan Jabatan Fungsional Penyuluh Keluarga Berencana
26. Tunjangan Jabatan Fungsional Pengamat Gunungapi
27. Tunjangan Jabatan Fungsional Teknisi Penerbangan
28. Tunjangan Jabatan Fungsional Penguji Mutu Barang dan Penera
29. Tunjangan Jabatan Fungsional Statistisi
30. Tunjangan Jabatan Fungsional Perantara Hubungan Industrial
31. Tunjangan Jabatan Fungsional Penyuluh Agama
32. Tunjangan Jabatan Fungsional Pengawas Ketenagakerjaan
33. Tunjangan Jabatan Fungsional Pengawas Farmasi dan Makanan
34. Tunjangan Jabatan Fungsional Dokter, Dokter Gigi, Apoteker, Asisten Apoteker, Pranata Laboratorium Kesehatan, Epidemiolog Kesehatan, Entomolog Kesehatan, Sanitarian, Administrator Kesehatan, Penyuluh Kesehatan Masyarakat, Perawat Gigi, Nutrisionis, Bidan, Perawat, Radiografer, Perekam Medis, dan Teknisi Elektromedis
35. Tunjangan Jabatan Fungsional Instruktur
36. Tunjangan Jabatan Fungsional Pekerja Sosial
37. Tunjangan Jabatan Fungsional Pengantar Kerja
38. Tunjangan Jabatan Fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat
39. Tunjangan Jabatan Fungsional Dosen
40. Tunjangan Jabatan Fungsional Widyaiswara
41. Tunjangan Jabatan Fungsional Teknisi Siaran, Andalan Siaran, dan Adikara Siaran
42. Tunjangan Jabatan Fungsional Jaksa
b.      Tunjangan yang dipersamakan dengan Tunjangan Jabatan
1.    Tunjangan Tenaga Kependidikan
2.    Tunjangan Jabatan Anggota dan Sekretaris Pengganti Mahkamah Pelayaran
3.    Tunjangan Jabatan Fungsional Jabatan bagi Pejabat tertentu yang ditugaskan pada Badan Pemeriksa Keuangan
4.    Tunjangan Jabatan Hakim
5.    Tunjangan Jabatan Panitera
6.    Tunjangan Jabatan Jurusita dan Jurusita Pengganti
7.    Tunjangan Pengamat Gunungapi bagi Pegawai Negeri Sipil Golongan I dan II
8.    Tunjangan Jabatan Fungsional Petugas Kemasyarakatan
9.    Tunjangan Jabatan Fungsional Jabatan lain yang diberikan kepada Pegawai Negeri  Sipil berdasarkan peraturan perundang-undangan *)
Keterangan :
*)    Tunjangan Jabatan lain yang diberikan kepada pegawai Negeri Sipil berdasarkan peraturan perundang-undangan digunakan untuk menampung Tunjangan Jabatan Fungsional yang dipersamakan dengan Tunjangan Jabatan yang masih dalam proses penyelesaian
4.      Kriteria Guru Penerima Tunjangan Fungsional
a.    Guru yang mengajar di sekolah swasta jenjang SD, SMP, SLB, SMA dan SMK dengan status Guru Tetap Yayasan (GTY) dan memiliki jam wajib mengajar minimal 24 jam setiap minggu, yang dibuktikan dengan SK/Surat Penugasan dari Kepala Sekolah masing-masing.
b.   Guru yang mengajar di sekolah swasta jenjang SD, SMP. SLB, SMA dan SMK dengan status Guru Tidak Tetap (GTT) dan memiliki jam wajib mengajar minimal 24 jam per minggu, yang dibuktikan dengan SK/Surat Penugsan dari Kepala Sekolah masing-masing, serta sudah memiliki masa kerja tugas sebagai GTT minimal 2 (dua) tahun atau sudah mulai bertugas per Januari 2005 tanpa putus.
c.    Jumlah 24 jam mengajar per minggu dapat dihitung dari penjumlahan jam mengajar seorang Guru lebih dari satu sekolah.

B.     MOTIVASI MENGAJAR
1.      Pengertian Motivasi
Motivasi belajar adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri  individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.[3]
19
 
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakan perasaan tidak suka itu, jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh factor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh didalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa unyuk belajar. Motivasi belajar adalah merupakan factor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas adalah hal penumbuh gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.[4]
Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah dan semangat dalam belajar, sehingga siswa yang mempunyai motivasi kuat dan memiliki energi, banyak untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi belajar tidak hanya memberikan kekuatan atau daya serap belajar tetapi juga memberi arah yang jelas. Motivasi juga bukan hanya berperan dalam belajar di sekolah, melainkan juga dalam bidang-bidang kehidupan yang lain.[5]
Seperti firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 218:
bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä z`ƒÉ©9$#ur (#rãy_$yd (#rßyg»y_ur Îû È@Î6y «!$# y7Í´¯»s9'ré& tbqã_ötƒ |MyJômu «!$# 4 ª!$#ur Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇËÊÑÈ
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dalam penjelasan ayat di atas bahwa orang mukmin yang mempunyai harapan tidak akan duduk berpangku tangan, ia akan selalu berusaha, berjuang agar memperoleh hasil yang diharapkan atau mencapai tujuan. Jadi kesimpulannya kita harus optimis, semangat terus berjuang tidak kenal lelah dan tidak kenal putus asa.
Menurut Hugo F Reading, bahwa motivasi adalah apa yang membuat seseorang melakukan aktivitas yang didominan, sebagai suatu proses yang menentukan, tingkah laku aktivitas, intersitas, serta arah umum perilaku manusia, merupakan konsep yang rumit. Motivasi berkaitan dengan konsep-konsep lain seperti minat, sikap, konsep diri, aspirasi dan sebagainya.[6]
Menurut Oemar Hamalik, menyatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang itu terbentuk suatu aktivitas nyata berupa fisik. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa suatu aktivitas seseorang yang berupa kegiatan fisik itu adalah karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktifitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengang segala upaya yang dapat dia lakukan untuk mencapinya.[7]
2.      Tujuan Motivasi Belajar
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Bagi seorang guru, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu para siswanya agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan diterapkan di dalam kurikulum sekolah.[8]
Jadi tujuan motivasi belajar ialah agar siswa dapat belajar dengan baik serta memiliki semangat belajar yang tinggi.
3.      Teori Motivasi Belajar
Teori motivasi ada bermacam-macam, salah satu teori yang terkenal kegunaannya untuk menerangkan motivasi siswa adalah yang dikembangkan oleh Maslow. Maslow percaya bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu. Kebutuhan-kebutuhan ini (yang memotivfasi tingkah laku individu) dibagi Maslow ke dalam tujuh kategori, yaitu :
a.       Fisiologis. Ini merupakan kebutuhan manusia yang paling besar, meliputi kebutuhan akan makan, pakaian dan tempat berlindung yang penting untuk memprtahankan hidup.
b.       Rasa aman. Ini merupakan kebutuhan kepastian keadaan dan lingkungan yang dapat diramalkan, ketidak pastian, ketidak adilan, keterancaman, akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada diri sendiri.
c.       Rasa cinta. Ini merupakan kebutuhan efeksi dan pertalian dengan orang lain.
d.      Penghargaan. Ini merupakan kebutuhan rasa berguna, penting, dihargai, dikagumi, dan dihormati orang lain.
e.       Aktualisasi diri. Ini merupakan kebutuhan manusia untuk mengembangkan diri sepenuhnya dan merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya.
f.        Mengetahui dan mengerti. Ini merupakan kebutuhan manusia untuk memuaskan rasa ingin tahunya, untuk mendapatkan pengetahuan, keterangan dan mengerti sesuatu.
g.       Kebutuhan estetik. Kebutuhan ini dimanifestasikan sebagai mkebutuhan akan keturunan, keseimbangan dari suatu tindakan.[9]
Relevan dengan kebutuhan itu maka ada teori motivasi lain yang perlu diketahui, yaitu :
a.       Teori instink. Menurut teori ini tindakan setiap diri manusia diasumsikan seperti tingkah laku binatang/animal. Tindakan manusia itu selalu terkait dengan instink atau pembawaan. Tokoh teori ini adalah Mc. Dougall.
b.       Teori Fisiologis. Teori ini disebutkan ”Behavior Theories”. Menurut teori ini semua tindakan manusia berakar pada usaha memenuhi kepuasan atau kebutuhan organic atau kebutuhan fisiknya dan dalam teori ini muncul perjuangan hidup, perjuangan untuk mempertahankan hidup, struggle for survival.
c.       Teori Hedonisme. Hedone adalah bahasa yunani yang berarti kesukaan,  kesenangan atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran didalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi. Menurut pandangan hedonisme, manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupan yang penuh kesenangan dan kenkmatan. Oleh karena itu, sikap menghadapi persoalan yang perlu pemecahan, manusia cenderung memilih alternatif pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan dari pada mengakibatkan kesukaran, kesulitan, penderitaan dan sebagainya.
Implikasi dari teori ini adanya tanggapan bahwa semua orang akan cenderung menghindari hal-hal; yang sulit dan mengusahakan atau yang mengandung resiko berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya, siswa disuatu kelas merasa gembira dan bertepuk tangan mendengar pengumuman darikepala sekolah bahwa guru matematika mereka tidak dapat mengajar karena sakit. Contoh tersebut menunjukkan bahwa motivasi itu sangat diperlukan. Menurut teori hedonisme para siswa harus diberi motivasi secara tepat agar tidak malas memenuhi kesenangannya.
d.      Teori Reaksi yang dipelajari
Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri-naluri, tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan di tempat orang itu hidup. Orang belajar paling banyak dari lingkungan kebudayaan tempat ia hidup dan dibesarkan, oleh karena itu teori ini disebut teori lingkungan kebudayaan.
Menurut teori ini apabila seorang pemimpin ataupun seorang pendidik akan memotifasi anak buah atau anak didiknya. Pemimpin ataupun pendidik itu hendaknya mengetahui latar belakang kehidupan dan kebudayaan yang berbeda-beda perlu adanya pelayanan dan pendekatan yang berbeda pula, termasuk pelayanan dalam pemberian motivasi terhadap mereka.
e.       Teori Daya Pendorong
     Teori ini merupakan paduan antara “Teori Naluri” dengan “teori reaksi yang dipelajari.” Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya, suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain, semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Namun cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlainan bagi tiap individu menurut latar belakang kebudayaan masing-masing.
Menurut teori ini, bila seorang pemimpin atau pendidik ingin memotivasi anak buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong, yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari lingkungan yang dimiliki. Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakekatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik ataupun kebutuhan psikis, oleh karena itu, menurut teori ini, apabila seorang pendidik bermaksud berusaha mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan orang yang akan dimilikinya.[10]
f.        Teori Psikoanalitik.[11]
Teori ini mirip dengan teori instink, tetapi lebih ditekankan pada unsur-unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia. Motivasi yang ada pada setiap orang iyu memiliki ciri-ciri sebagai berikut.:
a.       Tekun menghadapi kesulitan
b.      Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin.
c.       Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah untuk orang dewasa.
d.      Lebih senang bekerja mandiri.
e.       Dapat dipertahankan pendapatnya.
f.       Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini
4.      Macam-Macam Motivasi Belajar
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motivativ  yang aktif itu sangat bervariasi.
a.    Motivasi  dilihat dari dasar pembentukannya
1.   Motif-motif bawaan
Adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Motif-motif ini seringkali diisyaratkan secara biologis.
2.   Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya yaitu motif-motif yang timbul karena dipelajari.
b.   Jenis-jenis motivasi menurut bagian dari Woodwart dan Marquis
1.   Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya: kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat.
2.   Motif-motif darurat, yang termasuk dalam jenis motif ini antara lain: dorongan untuk menyelamatkan diri, membalas, untuk berusaha dan untuk memburu, jelasnya jenis motivasi ini timbul karena rangsangan dari luar.
3.   Motif-motif obyektif, motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
c.    Motivasi Jasmaniah dan Rohaniah
Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti misalnya: refleksi, instink, otomatis nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah yaitu kemauan.
d.   Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik
1.   Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud motivasi intrinsic adalah motif-motif yang menjadi aktif dan fungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karenadalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Bila seorang telah memiliki motivasi intrinsic dalam dirinya, maka ia sadar akan melakukan suatu kegiatan yuang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar motivasi intrinsic sangat diperlukan terutama belajar sendiri. Dan seorang yang memiliki motivasi intrinsic, suatu ingin maju dalam belajar.[12]
2.   Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting, sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
5.      Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar
a.       Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas Belajar.[13]
Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Motivasi sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar. Seseorang yang berminat untuk belajar belum sampai pada tatanan motivasi belum menunjukkan aktivitas yang nyata. Minat merupakan kecenderungan psikologis yang menyenaangi objek, belum sampai melakukan kegiatan. Namun minat adalah alat motivasi dalam belajar.
b.       Motivasi berupa pujian lebih baik dari pada hukuman.
Meski hukuman tetap diberlakukan dalam memicu semangat belajar anak didik, tetapi  masih lebih baik penghargaan berupa pujian. Setip orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam bentuk apapun juga.
c.       Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar.
Kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginannya untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah anak didik belajar, karena apabila tidak belajar berarti anak didik tidak akan mendapat ilmu pengetahuan.
d.      Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar
Anak didik yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Dia yakin bahwa belajar bukanlah kegiatan yang siasia. Hasilnya pasti akan berguna tidak hanya kini, tetapi juga dihari-hari mendatang, setiap ulangan yang diberikan oleh guru tidak dihadapi dengan pesimisme, hati yang resah gelisah, tetapi dia hadapi dengan tenang dan percaya diri.[14] 



6.      Fungsi Motivasi Belajar
Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut:
a.       Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir.
b.      Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebaya.
c.       Mengarahkan kegiatan belajar.
d.      Membentuk semangat belajar.
e.       Menyadarkan tentang adanya perjalanan dan kemudian bekerja yang berkesinambungan, individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil.[15]
7.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa
Motivasi kejiwaan merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan. Artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa. Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain:[16]
a.       Cita-cita atau aspirasi siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti belajar berjalan, makan makanan yang lezat, berebut permainan, dapat membaca, dapat menyanyi dan lain-lain selanjutnya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemuan bergiat, bahkan dikemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi oleh perkembangan kepribadian.
b.      Kemampuan siswa.
Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecapan mencapainya, keinginan membaca perlu dibarengi dengan kemampuan mengenal dan mengucapkan bunyi huruf-huruf.
c.       Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar seorang siswa yang sedang sakit, lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya seorang siswa yang sehat, kenyang dan gembira akan mudah memusatkan perhatian.
d.      Kondisi Lingkungan Siswa
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Dengan lingkungan yang aman, tentram, tertib dan indah maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e.       Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan lingkungan tempat tinggal, dan pergaulan juga mengalami perubahan, lingkungan budaya siswa yang berupa surat kabar, majalah, radio, televisi dan film semakin menjangkau siswa. Kesemua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar.
f.       Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa
Upaya guru membelajarkan siswa terjadi di sekolah dan diluar sekolah. Upaya pembelajaran di sekolah meliputi hal-hal : (i). Menyelenggarakan tertib belajar disekolah (ii).Membina disiplin belajar dalam tiap kesempatan seperti memanfaatkan waktu dan pemeliharaan fasilitas sekolah. (iii) Membina belajar tertib pergaulan. (iv) Membina belajar tertib lingkungan sekolah.[17]


[3] Chatidjah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan, (Surabaya : Al Ikhlas, 1994), h. 144-145.
[4] Chatidjah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan …, h. 75.
[5] W. S. Winkel SJ, Psikologi Pengajaran, (Jakarta : PT Grafindo, 1999), cet, V. Edisi Revisi, h. 150-151.
[6] Junardi T, Bimbingan Konseling Sekolah, (Semarang : Tim pengadaan Buku Pelajaraaaan IKIP Semarang, 1989), h. 154.
[7] Syaeful Bahri Djamaroh, Psikologi Belajar, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2002), h. 114.
[8] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Remaja, Rosdakarya, 2003), h. 72.
[9] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 1995), cet III, h. 171-173.
[10] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan …, h. 74.
[11] Martin Handoko, Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku, (Yogyakarta : Kanisius, 1992), h. 16.
[12] Syaeful Bahri Djamaroh, Psikologi Belajar …, h. 115.
[13] Syaeful Bahri Djamaroh, Psikologi Belajar …, h. 119.
[14] Syaeful Bahri Djamaroh, Psikologi Belajar …, h. 121
[15] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), h. 85.
[16] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran …, h. 97.
[17] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran …, h. 100.

 temukan saya di facebook

0 comments:

Post a Comment